Latest Entries »

Karl Heinrich Marx merupakan seorang filsuf terbesar di abad 19. Marx lahir di Jerman dan merupakan filsuf yang paling berpengaruh di abad 20. Pemikirannya yang paling terkenal adalah materialisme dialektika dan materialisme historis. Karl Marx dianggap sebagai filsuf paling berpengaruh sepanjang abad 20 karena dari ideologi yang dikembangkannya muncul ideologi yang selalu bertarung melawan kapitalis di abad 20 itu, yaitu komunis. Marx merupakan filsuf Ilmu Sosial yang hampir semua pemikirannya merupakan pandangnya dari fenomena sosial yang ada disekitarnya akibat dari revolusi industri dan timbulnya budaya kapitalisme serta teori sejarah yang dipengaruhi oleh perjalanan Revolusi berdarah di Prancis selama abad 19.

Banyaknya intepretasi yang berbeda-beda dari para pengikut Karl Marx dan banyak dari mereka yang justru salah menafsirkannya. Para pengikut Karl Marx menamai diri mereka Marxis, padahal dalam pernyataannya Marx tidak pernah menyebut dirinya Marxis (Ramly 2009:9). Akibat dari banyaknya varian dalam mendalami ideologi Maarx ini dan menimbulkan pergeseran tafsir mengakibatkan timbulnya sekte-sekte sosialisme, misal Marxisme-Leninisme, Sosialisme Kautsky, Sosialisme Mao Tse Tung dan lain-lain. Pandangan Marx terhadap perubahan terdapat pada pemikirannya yang disebut Materialisme Dialektika dan pandangannya terhadap sejarah disebut Materialisme Historis. Marx memandang sesuatu dari hal nyata dan tidak menerima dan menolak sesuatu dari khayalan, maka Marx dikenal sebagai kaum materialis. Pandangan materialisme historis memandang sejarah dari berbagai sudut pandang dan yang paling banyak berpengaruh adalah dari sudut pandang ekonomi (Ramly 2009:131). Pandangan utamanya adalah tentang perjalanan kaum borjuis dari perkembangannya menjadi kaum kapitalis hingga kehancurannya karena perlawanan dengan kelas pekerja yang menimbulkan struktur masyarakat tanpa kelas, dan berlakunya hukum sosialis.

Pengaruh ideologi Marx terasa luar biasa dalam mewujudkan semangat revolusi diberbagai negara di belahan dunia. Diantara revolusi yang mengusung semangat Marxisme adalah revolusi Bolsevyk (revolusi Oktober) 1917 di Rusia yang berhasil mengkudeta Tsar Nicholas II dan menjadi cikal bakal berdirinya negara Uni Sovyet yang berfaham komunis. Revolusi Cina 1949 yang menyebabkan pemerintahan nasionalis Chiang Kai Sek harus pergi dan membuat negara Taiwan yang sampai sekarang tidak diakui Cina. Bahkan dampaknya juga nyata pernah terjadi di Indonesia dan menciptakan sejarah paling kelam dan paling tragis, yaitu peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang mana PKI dituduh memberontak dengan membunuh 6 orang jenderal untuk bisa mengubah haluan negara menjadi komunis, dan berbuntut pada pembunuhan ratusan ribu (bahkan ada yang menyebut 2 jutaan) warga negara Indonesia. Di Indonesia sendiri akar-akar gerakan marxistme masih ada dikalangan mahasiswa dengan dibentuknya kesatuan aksi Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi yang disingkat LMND (baca : elemende). Organisasi ini menempatkan ideologi Materialisme, Dialektika dan Historis sebagai ideologi mereka sebagai dasar berfikir.

Sangat luar biasa Karl Marx yang diwaktu kecilnya dikenal sebagai orang yang jorok dan tidak mau diatur, saat dewasa menjadi seorang filsuf terbesar abad 19 dan pengaruhnya masih sampai satu abad kemudian. Kepribadian Marx yang dikenal keras dan pandangannya yang jauh kedepan serta angan-angannya yang revolusioner membuat Marx mendapat banyak pengikut yang sefaham dengannya. Meskipun pada kenyataannya angan-angan Karl Marx meleset, namun proses kerangka berfikirnya yang analitis dan rasional serta materialistis menimbulkan banyak ketertarikan dari berbagai kalangan bagaimana dalam mendalami ideologi Materialisme dialektika dan materialisme historis ini.

 

Fasisme (/ fæʃɪzəm /) adalah, gerakan radikal ideologinasionalis otoriter politik. Fasis berusaha untuk mengatur bangsa menurut perspektif korporatis, nilai, dan sistem, termasuk sistem politik dan ekonomi. Mereka menganjurkan pembentukan partai tunggal negara totaliter yang berusaha mobilisasi massa suatu bangsa dan terciptanya “manusia baru” yang ideal untuk membentuk suatu elit pemerintahan melalui indoktrinasi, pendidikan fisik, dan eugenika kebijakan keluarga termasuk. Fasis percaya bahwa bangsa memerlukan kepemimpinan yang kuat, identitas kolektif tunggal, dan akan dan kemampuan untuk melakukan kekerasan dan berperang untuk menjaga bangsa yang kuat. pemerintah Fasis melarang dan menekan oposisi terhadap negara.

Mussolini; Pemimpin Fasis Italia

Fasisme dikenal sebagai ideologi yang lahir dan berkembang subur pada abad ke-20. Ia menyebar dengan pesat di seluruh dunia pada permulaan Perang Dunia I, dengan berkuasanya rezim fasis di Jerman dan Italia pada khususnya, tetapi juga di negara-negara seperti Yunani, Spanyol, dan Jepang, di mana rakyat sangat menderita oleh cara-cara pemerintah yang penuh kekerasan. Berhadapan dengan tekanan dan kekerasan ini, mereka hanya dapat gemetar ketakutan. Diktator fasis dan pemerintahannya yang memimpin sistem semacam itu di mana kekuatan yang brutal, agresi, pertumpahan darah, dan kekerasan menjadi hukum mengirimkan gelombang teror ke seluruh rakyat melalui polisi rahasia dan milisi fasis mereka, yang melumpuhkan rakyat dengan rasa takut. Lebih jauh lagi, pemerintahan fasis diterapkan dalam hampir semua tingkatan kemasyarakatan, dari pendidikan hingga budaya, agama hingga seni, struktur pemerintah hingga sistem militer, dan dari organisasi politik hingga kehidupan pribadi rakyatnya.

Kondisi penting lainnya dalam pertumbuhan negara fasis adalah perkembangan industrialisasi. Munculnya negara industri, memunculkan ketegangan sosial dan ekonomi. Jika liberalisme adalah penyelesaian ketegangan dengan jalan damai yang mengakomodasi kepentingan yang ada, maka fasisme mengingkari perbedaan kepentingan secara paksaan. Fasisme mendapat dukungan pembiayaan dari industriawan dan tuan tanah, karena kedua kelompok ini mengharapkan lenyapnya gerakan serikat buruh bebas, yang dianggapnya menghambat kemajuan proses produksi dalam industri. Sumber dukungan lain bagi rezim fasis adalah kelas menengah, terutama pegawai negeri. Mereka melihat fasisme adalah sebuah sarana untuk mempertahankan prestise yang ada sekaligus perlindungan politik. Fasisme juga memerlukan dukungan dari kaum militer, sebagaimana fasisme Jerman, Italia dan Jepang, sebagai jalan menuju militerisasi rakyat.

Meskipun fasisme bukan merupakan akibat langsung dari depresi ekonomi, sebagaimana teori marxis, tetapi jelas kaum fasis memanfaatkan hal itu. Banyaknya angka pengangguran akibat depresi, melahirkan kelompok yang secara psikologis menganggap dirinya tidak berguna dan diabaikan. Saat hal ini terjadi, maka fasisme bekerja dengan memulihkan harga diri mereka, dengan menunjukkan bahwa mereka adalah ras unggul sehingga mereka merasa dimiliki. Dengan modal inilah, maka fasisme juga memperoleh dukungan dari rakyat lapisan bawah.

Dengan demikian, fasisme bekerja pada setiap lapisan masyarakat. Fasisme memanfaatkan secara psikologis kesamaan-kesamaan pokok yang ada seperti: frustasi, kemarahan dan perasaan tak aman. Tak aneh, jika dalam sejarahnya rezim fasis senantiasa mendapatkan dukungan masyarakat. Terutama hal ini jelas terjadi di Jerman.

Lambang Nazi Jerman

Referensi

Ebenstein, William dan Edwin Fogelman. Isme-Isme Dewasa Ini, penerjemah: Alex Jemadu,  Jakarta: Erlangga, 1990.

Hobsbawm, Eric. Age of Extremes, London: Abacus, 1994.

Id.svhoong.com

Id.wikipedia.com

Jacek-87.blogspot.com

Waroofweekly.blogspot.com

Wilkinson, Paul. New Fascist, Yogyakarta: Resist Book, 1995.

get the .ppt Fasisme dalam Sejarah

get this article Fasisme dalam Sejarah

get this book reference Adolf_Hitler-Mein_Kampf__(1939)

facebook Trie Thepeaceshunter.

komunitas historia

serba sejarah